live chat fb



7.11.13

DO'A AKHIR TAHUN

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Ya Allah, limpahkanlah Rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW,

Dengan Rahmat yang memenuhi khazanah-Mu dengan cahaya yang menjadi keterbukaan bagi segala kebaikan, kebahagiaan, dan kesenangan bagi kami dan bagi kaum mukminin. Dan limpahkanlah pula kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ya Allah, atas amal apa saja yang aku kerjakan pada tahun lalu dan Engkau tidak meridhainya sedangkan aku telah melupakannya padahal Engkau tidak melupakannya. Tetapi Engkau tetap sayang kepadaku padahal mampu menyiksaku dan Engkau juga menyeruku untuk bertobat setelah aku berani terhadap-Mu, aku memohon ampun kepada-Mu. Maka ampunilah aku.

Ya Allah, amal apa saja yang telah aku kerjakan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala dan ampunan untukku pada amal itu, terimalah, dan jangan Engkau putuskan harapanku kepada-Mu, wahai Yang Mahamulia, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang.

Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarganya.. Aamiin

Read more

SAMBUT BULAN MUHARAM

Kita Sudah masuk bulan pertama pada tahun baru Hiriyah yang memiliki keutamaan khusus (keistimewaan) dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Bulan tersebut adalah bulan MUHARRAM..

Diantara keutamaannya :

1. Bulan Muharram termasuk 4 bulan haram (Dzulqa'dah, Dzilhijjah, Muharram & Rajab) yang dilarang melakukan kezhaliman kepada diri sendiri dan berbuat dosa karena dosanya lebih besar. (Lihat: QS. At-Taubah:36).

2. Dilarang melakukan peperangan. (Lihat:QS.at-Taubah:5).

3. Memperbyk puasa muthlak pada bulan Muharram dan ibadah-ibadah yang lain, karena pahala amalan pada bulan tersebut lebih besar.

Rasululllah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (Muharram). Sedangkan shalat yang paling utama setelah (shalat) fardhu adalah shalat malam.”(HR.Muslim).

Sabdanya, 'Bulan Allah' dinisbatkannya 'bulan' kpd 'Allah' menunjukkan adanya kemuliaan.

Akan tetapi terdapat riwayat bahwa Nabi sama sekali tidak pernah berpuasa selama sebulan penuh selain bulan Ramadan. Maka hadits di atas dipahami bahwa hendaknya mmperbanyak ibadah puasa mutklak pada bulan Muharram, bukan berpuasa selama sebulan penuh di bulan tersebut.

Bahkan dalam riwayat yang lain Rasulullah mengkhususkan dengan berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagaimana Abu Qatadah berkata, Nabi ditanya mengenai keutamaan puasa 'Asy-Syura? Beliau menjawab,

”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim).

Namun dalam rangka menyelisihi/berbeda dengan orang Yahudi, dianjurkan berpuasa 1 hari sebelumnya, yaitu berpuasa pd hari ke-9 (tasu’a) sebagaimana riwayat Ibnu Abbas yang menjelaskan Rasulullah berkeinginan puasa pada tanggal 9 Muharram pada tahun berikutnya namun beliau meninggal.(HR.Muslim).

Sbagian Ulama membolehkan berpuasa pada 10+11 Muharram, bahkan 9,10+11 Muharram.

Semoga bermanfaat.

Read more

CARAKU MENJAGA CINTAKU

Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu.
Mungkin ini tak biasa,
Tapi bagiku,
Inilah cara terbaik mencintaimu.

Aku mencintaimu dengan menjauh darimu,
Bukan karena aku membencimu,
Justru karena aku sangat mencintaimu,
Dan aku ingin menjagaku juga menjagamu,
Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku.

Inilah caraku mencintaimu,
Dalam diamku,
Dalam ketulusanku,
dalam kesucianku,
dalam cara tak biasaku,

Meski sulit,
Meski berat,
Meski sakit untukku,
namun ku tahu ini pilihan terbaik agar kita tak terlalu saling mengharap.

Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemberi Nafas,
Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung,
PadaNya kuharap Dia khan menjagamu untukku,
PadaNya kutitipkan hatimu,

Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung do'a,
Agar Untukmulah segala kebaikan,
Agar bersamamulah segala keindahan.

Read more

16.10.13

Wanita Yang Pertama Masuk Surga


Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

 Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya.Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

 Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

 Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”

 “Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

 “Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

 “Alhamdulillah,alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

 “Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

 “Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

 “Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

 “Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

 “Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

 Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

 Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

 “Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.

 Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

 Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

 Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

 “Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

 Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

 “Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

 “Di ladang,” jawab Muti’ah.

 “Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

 “Bukan. Bercocok tanam.”

 “Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

 “Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

 “Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

 “Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

 Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

 “Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”

 tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

 “Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

 sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga...

 Subhanallah...

Read more

Cermin Diri Di Malam Hari


Jika anda tidak mampu membuat orang tersenyum, jangan membuat orang menangis.

 Jika anda tidak mampu memberi manfaat kepada orang lain, jangan menghancurkan orang lain.

 Jika anda tidak mampu memberi apa apa, jangan terlalu banyak meminta.

 Jika anda tidak mampu menjerit karena rasa tertekan, lebih baik diam dari berkata kata.

 Jika anda tidak mampu tersenyum kepada orang lain, tersenyumlah pada diri sendiri di hadapan cermin.

 " Jadilah orang yang MEMBERI tanpa mengingatnya kembali dan orang yang MENERIMA tetapi tidak melupakannya
 sama sekali.

Read more

All. Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Visitantes

My Blog List

Baca Juga Yang Ini Ya.......

search

Pengikut

My Blog List

Headlinews

Translate

BERITA TERKINI

JADWAL SHALAT

JADWAL SHALAT:

div>

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting